Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2016

Lakukan Amalan Ini, Ajalnya Ditunda 5 Tahun




Kisah-kisah keajaiban amal bukan bualan, tapi kenyataan. Bukan hanya dialami oleh orang-orang akhir zaman, keajaiban itu sudah terlebih dahulu dibuktikan oleh generasi terdahulu umat ini. Dalam kisah berikut ini, usia laki-laki di zaman Nabi Sulaiman bin Dawud ‘Alaihimas salam ini dipanjangkan oleh Allah Ta’ala karena melakukan satu amalan mulia. Iya, hanya satu amalan.

Laki-laki ini mendatangi Nabi Sulaiman ‘Alaihis salam bersama seorang wanita. Keduanya minta dinikahkan. Selesai prosesi sakral nan suci itu, keduanya pulang. Sesaat setelah mereka keluar, ada malaikat bertamu ke rumah Nabi yang mampu berbincang-bincang dengan binatang ini.

Kepada Nabi Sulaiman, malaikat itu memberitahukan bahwa laki-laki tersebut akan mati dalam lima hari ke depan. Hanya sebentar, lalu malaikat pergi.

Lima hari setelahnya, Nabi Sulaiman ‘Alaihis salam masih terlihat sibuk dengan aktivitasnya. Hingga hari kelima habis, laki-laki yang disebut oleh malaikat itu masih hidup. Nabi Sulaiman hanya diam, sembari bertanya-tanya, kok bisa malaikat berkata demikian, tapi tidak kejadian?

Kamis, 17 Maret 2016

Hikmah dari Kehilangan





Pada suatu masa, di sebuah pedesaan China, hidup seorang pria tua dan keluarganya. Pria tersebut mengolah sebuah kebun dan memiliki beberapa hewan peliharaan, salah satu peliharaannya adalah seekor kuda jantan. Suatu ketika, kuda yang dimiliki pria tua tersebut hilang. Beberapa tetangga mengatakan sempat melihat kuda tersebut berlari melewati batas daerah yang tidak boleh dilewati oleh warga desa. Pria tua itu menjadi sedih, tetapi dia mengatakan, "Tidak apa, barangkali kejadian ini bukan sesuatu yang buruk dan siapa tahu akan datang sesuatu yang baik."

Setelah hari berganti hari, pada malam hari, pria tua itu dikejutkan dengan suara kuda. Dia langsung bangkit dan melihat ke arah luar rumah, tampak kudanya yang hilang telah kembali dan membawa seekor kuda betina entah milik siapa yang menjadi pasangannya. Tentu saja, seperti peraturan di desa itu, kuda yang tidak diketahui pemiliknya atau liar akan menjadi milik mereka yang menemukan. Para tetangga memberi selamat pada pria tua yang telah mendapatkan kembali kudanya serta tambahan satu kuda secara cuma-cuma.

Setelah waktu berjalan, anak laki-laki dari pria tua tersebut mulai berlatih untuk naik ke atas punggung kuda dan memacu kuda tersebut di sekitar area perkebunan. Sayangnya, pada suatu hari, anak laki-laki itu jatuh dari atas punggung kuda dan mengalami cedera kaki yang sangat parah. Perlu waktu lama untuk sembuh, tetapi sekalipun telah sembuh, anak laki-laki itu tidak bisa berjalan normal. "Tidak apa-apa, nak" ujar si pria tua, "Mungkin hal ini akan mendatangkan sesuatu yang lebih baik untuk mu,"

Selasa, 15 Maret 2016

HALAL BUAT KAMI DAN HARAM BUAT TUAN




Ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :

“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.

“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”
“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang ke rumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Jangan Berhenti Berdoa




Kisah nyata, terjadi di Pakistan. Seorang Dr Ahli Bedah terkenal (Dr. Ishan) tergesa-gesa menuju airport. Beliau berencana akan menghadiri Seminar Dunia dalam bidang kedokteran, yang akan membahas penemuan terbesarnya di bidang kedokteran.

Setelah perjalanan pesawat sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat mengalami gangguan dan harus mendarat di airport terdekat.

Beliau mendatangi ruangan penerangan dan berkata: Saya ini dokter spesial, tiap menit nyawa manusia bergantung ke saya, dan sekarang kalian meminta saya menunggu pesawat diperbaiki dalam 16 jam?

Pegawai menjawab: Wahai dokter, jika anda terburu-buru anda bisa menyewa mobil, tujuan anda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan mobil, 3 jam tiba.

Dr. Ishan setuju dengan usul pegawai tersebut dan menyewa mobil. Baru berjalan 5 menit, tiba-tiba cuaca mendung, disusul dengan hujan besar disertai petir yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek.

Setelah berlalu hampir 2 jam, mereka tersadar mereka tersesat dan terasa kelelahan. Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya, dihampirilah rumah tersebut dan mengetuk pintunya.

Kamis, 12 Maret 2015

Di Surga Tidak Ada Nenek-Nenek



Diriwayatkan bahwa seorang perempuan tua datang kepada Rasulullah seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah untukku agar Ia memasukkanku ke dalam surga.”

Rasulullah berkata kepadanya, “Wahai ibu fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki nenek-nenek.” (HR At-Thirmidzi)

Lalu wanita tua itu bersusah hati dan menangis, ia menyangka bahwa ia tidak akan masuk surga.

Ketika Rasulullah menyaksikan itu, beliau menjelaskan maksudnya. Bahwa orang yang telah lanjut usia itu tidak akan masuk surga dalam keadaan lanjut usia. Kemudian Rasulullah membacakan ayat,

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al-Waqi’ah : 35-37)

***

Sumber : Semua Ada Saatnya, Penulis Mahmud al-Mishri, Penerbit Pustaka Al-Kautsar

Jumat, 06 Maret 2015

Al-Balkhi dan Si Burung Pincang




Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham, yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.

Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, ia tidak ketinggalan untun berpamitan dengan sahabatnya. Namun belumlah seberapa lama al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia telah datang lagi.

Sahabatnya itu menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakan. Padahal negeri yang ditujunya itu juga sangat jauh letaknya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya.

“Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau begitu cepat pulang?”

“Dalam perjalanan”, jawab al-Balkhi, “aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan.”

“Keanehan apa yang kau maksud?”, tanya Ibrahim bin Adham penasaran.

“Ketika aku sedang istirahat di sebuah bangunan yang telah rusak”, jawab al-Balkhi menceritakan, “aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. ‘Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal dia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tidak bisa.’

Selasa, 24 Februari 2015

Cerita Unik : Mr. Asa Khair


Alkisah, di sebuah kerajaan, ada seorang penasihat raja yang selalu berpikir positif. Setiap ada kejadian, ia selalu mengucapkan “asa khair” (semoga menjadi baik). Hingga akhirnya ia dikenal sebagai Mr. Asa Khair.

Suatu ketika, sang raja yang memiliki kegemaran berburu mengajaknya untuk melakukan perburuan di hutan. Tiba-tiba, karena kurang hati-hati, jari kelingking tangan sang raja digigit ular dan terpaksa harus dipotong karena keracunan. Sang raja bersedih dan meminta pendapat penasihatnya tersebut.

“Bagaimana pendapatmu tentang jari kelingkingku ini?”, tanya sang raja.

Si penasihat dengan enteng menjawab, “Asa khair, semoga semuanya baik-baik saja, baginda. Apa pun yang terjadi, patut disyukuri.”

Mendengar ucapan penasihatnya itu, sang raja langsung marah besar, “Kurang ajar! Aku sedang terkena musibah, bukannya dihibur malah berkata “asa khair”, malah disuruh bersyukur!”, bentak raja. Karena saking marahnya, sang raja langsung memerintahkan pengawalnya untuk memenjarakan si penasihat itu. Dan sang raja pun mengangkat penasihat baru.

Minggu, 20 April 2014

Taubatnya Malik Bin Dinar

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata : "Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr, kemudia akau beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya.

Ketika dia mulai bisa berjalan, maka cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.

Ketika malam dipertengahan bulan Sya'ban dan itu di malam Jum'at, aku meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya'. Maka akau bermimpi seakan-akan qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku.

Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan.

Senin, 17 Maret 2014

Rumah Tukang Kayu



Seorang tukang kayu bermaksud untuk pensiun dini dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi perumahan. Ia menyampaikan keinginannya tersebut kepada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tidak berkerja lagi akan kehilangan penghasilan bulanannya. Akan tetapi, keinginan si tukang kayu ini sudah bulat. Ia sudah merasa lelah, ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh damai dan ketenangan dengan anak dan juga istrinya.

Di pihak lain, pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia pun memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan dirinya sebuah rumah, sebagai karya terakhir yang bisa dipersembahkan bagi perusahaan.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan tersebut. Tetapi sebenarnya hati kecilnya menolakdan merasa terpaksa. Pikirnya, si pemilik perusahaan tidak mau rugi, bahkan saat-saat terakhir pun ia masih dipekerjakan.

Hatinya tak sepenuhnya tercurah pada pekerjaan rumah tersebut. Dengan bahan sekedarnya dan bekerja ogah-ogahan ia pun mengerjakan proyek itu. Alhasil, rumah itu pun selesai dengan hasil yang memang tidak optimal. Ia telah mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak maksimal.

Sabtu, 01 Februari 2014

‘Mukjizat’ 11 Dolar 11 Sen




Sally adalah anak pertama dari dua bersaudara yang masih berusia 8 tahun. Belum lama ini dia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa adiknya, George, sakit dan harus dioperasi. Orangtuanya yang berpenghasilan pas-pasan tidaklah mungkin untuk membiayai operasi yang mahal tersebut, apalagi jaminan asuransi kesehatan telah lama ditutup karena mereka tidak kuat membayar premi.

“Hanya doa dan ‘mukjizat’ yang dapat menyelamatkan adikmu!”, seru sang ayah kepada Sally.

“’Mukjizat’? Apa itu?”, tanya Sally dalam hati.

Sesaat kemudian Sally masuk ke kamar dan berdoa untuk ‘mukjizat’ yang dia harapkan, yakni kesembuhan adiknya. Tak lma setelah itu, Sally keluar kamar dan menemui adiknya. Dia ingin tahu, apakah dengan doanya tadi George sudah sembuh atau belum?

Ternyata adik kesayangannya itu belum juga sembuh. Lalu ia kembali ke kamar mengambil tabungannya. Tabungan itu lalu ia pecahkan sehingga uang logam yang ada di dalamnya berhamburan. Satu persatu uang itu dia pungut. Setelah dihitung, tabungan itu ternyata berisi uang sejumlah 1 Dolar 11 Sen.

Berbekal uang 1 Dolar 11 Sen tersebut, Sally kemudian pamit kepada orangtuanya guna membeli obat untuk adiknya di apotek seberang jalan. Dengan terharu, sang ibu melepas Sally untuk membeli obat dengan nilai uang yang sebenarnya tak mungkin untuk menebus obat yang dimaksud.

Rabu, 15 Januari 2014

Segelas Susu




Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup sebagai pedagang asongan dari pintu ke pintu, biasanya dilakukan di kompleks-kompleks Rumah Dinas, kini kehabisan uang. Kondisinya saat itu sangat lapar.

Anak lelaki itu memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan  tetapi dia kehilangan keberanian saat seorang ibu muda istri pejabat membuka pintu. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air. Ibu muda itu tersebut melihat dan berpikir bahwa anak lelaki itu pasti kelaparan.

Oleh karena itu, ia membawakan segelas besar susu. Kemudian anak lelaki itu tersebut minum dengan lahapnya dan bertanya, “Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?”

Ibu itu menjawab, “Kamu tidak perlu membayar apa pun, orangtua kami dulu mengajarkan untuk tidak menerima bayaran jika melakukan suatu kebaikan.”

Sambil menghabiskan susunya, anak lelaki tersebut berkata dalam hatinya, “Dari hatiku yang terdalam, aku sangat simpati pada ibu yang berbaik hati ini. Dia tidak sombong sekalipun istri pejabat.”

Beberapa puluh tahun kemudian, ibu muda dahulu (yang kini sudah agak lanjut usianya) mengalami sakit yang sangat kritis. Balai pengobatan sudah tidak mampu lagi mengobati penyakit komplikasinya. Apalagi saat ini ia berstatus janda seorang pensiunan pegawai negeri. Atas saran keluarganya, si wanita ini dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Pemerintah yang ada di kota tersebut untuk diobservasi. Namun tetap saja tidak bisa diobati.

Akhirnya, dengan menjual barang-barang tersisa dan atas bantuan rekan-rekan sesama janda pensiunan, si wanita ini dikirim ke ibukota karena di sana ada dokter yang mampu mengobati penyakit komplikasinya itu.

Senin, 16 Desember 2013

Mencari Allah




Alkisah, di negeri Mongolia, ada seorang raja yang dicintai. ia bersikap adil dan kasih sayang kepada rakyatnya. Ia tidak mempunyai keturunan sebagai pelanjut tampuk kekuasaannya. Namun demikian, baginya itu bukan soal yang harus disesali, sebab cinta kepada rakyatnya telah melebihi cintanya kepad keluarga.

Pada suatu hari, ia tergoda oleh bujuk rayu syetan agar tidak begitu saja menyembah Allah sebelum melihat-Nya. Raja itu kemudian memerintah bawahannya agar berusaha memperlihatkan Allah kepadanya dengan memberi kesempatan waktu tiga hari.

Tiga hari kemudian, para pemikir dan pembesar kerajaan berkumpul di pendopo kerajaan. Mereka sudah bersiap untuk mati, karena tidak bisa menghadirkan Allah di hadapan Raja.

Tiba-tiba seorang rakyat kecil mengangkat tangan dan bicara: “Wahai yang mulia Tuan Raja, jika berkenan, hamba sanggup memperlihatkan Allah kepada Tuan Raja.”

“Ya, katakan apa kemampuanmu!”, perintah raja.

Jumat, 06 Desember 2013

Penolong Yang Tulus




Di suatu malam, ada gerombolan penyamun sedang menuju ke sebuah jalan untuk membegal rombongan kafilah. Para penyamun itu dengan sabar menanti di tepi jalan menyambut kedatangan kafilah itu. Namun mereka mulai gelisah. Setelah cukup lama menunggu, kafilah itu tidak terlihat melintas di jalan.

Sementara malam semakin larut dan kafilah itu tetap tidak terendus jejaknya. Sudah pasti kafilah itu telah berlalu dengan aman hingga pagi, sedang para penjahat itu tak bisa mengikuti jejaknya.

Merasa gagal dengan buruannya, para pencuri itu kemudian kabur. Namun di tengah perjalanannya, dari jauh mereka melihat sebuah gubug. Dari gubub itu nampak sebuah sinar lampu menerobos keluar.

Gubug itu mereka datangi lalu mengetuk pintunya. Mereka mengaku pasukan fi sabilillah.

“Kami pasukan fi sabilillah baru pulang dari peperangan, tetapi kemalaman. Karena itu kami bermaksud menginap sebagai tamu tuan.”

Penghuni gubug itu menyambutnya dengan ramah dan baik Mereka diberi kamar tersendiri dan melayani mereka sebagaimana mestinya, bahkan sempat dihidangkan makanan seadanya.

Keluarga itu mempunyai seorang anak yang lumpuh akibat suatu penyakit. Pagi harinya, ketika tamu-tamu itu pulang, ayah anak itu bangkit dari tempat duduk untuk mengambil air sisa mandi dan wudhu para tamunya di dalam bejana.

“Usaplah seluruh tubuh anak kita dengan air ini. Mudah-mudahan ia dapat sembuh berkat para pejuang fi sabilillah ini. Air ini adalah sisa mandi dan wudhu mereka.”, kata sang ayah kepada istrinya.

Minggu, 01 Desember 2013

Demi Amanah




Anak Umar bin Khattab merengek kepada ayahnya agar dibelikan baju sekolah yang baru. Umar sadar, baju sekolah anaknya kumal dan tidak sepadan dengan anak tetangganya. Karena itu ia merencanakan hutang uang negara dan akan mencicilnya. Namun rencana itu akhirnya dibatalkan ketika bendahara mengingatkan tentang maut.

Sepulang sekolah, putra Khalifah Umar bin Khattab menangis tersedu-sedu. Dia bercerita bahwa teman-temannya selalu mengolok-olok karena bajunya paling kumal di sekolah.

Sebagai seorang ayah, Umar memahami kesedihan anaknya itu. Tetapi dia tidak berdaya, karena gajinya sebagai Amirul Mukminin hanya bisa mencukupi kebutuhan paling primer.

Setelah berpikir lama, Umar menulis surat kepada bendahara negara (Menteri Keuangan). Dia mengajukan pinjaman hutang empat dirham dengan potongan gaji sebagai jaminan.

Tak lama kemudian suratnya dibalas. Isinya kira-kira seperti ini:

Senin, 25 November 2013

Bakteri Pembawa Muslim



Allah memberi hidayah kepada manusia melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan bakteri. Ya…, bakteri. Gara-gara makhluk kecil ini seorang tokoh orientalis menjadi seorang muslim.

Alkisah, di lereng bukit terlihat yang bersinar temaram. Bayangan sinar bertabir kelambu membentuk sebuah gambar manusia yang sedang tekun membaca buku di bale-bale rumah itu. Tokoh orientalis itu sedang membaca sebuah hadits.

 “Jika seekor anjing menjilat perkakas rumah salah seorang di antara kalian, maka cucilah alat (tempat) itu tujuh kali, satu kali diantaranya yang tujuh dicampur dengan tanah.”

Sejenak ia berdiam menatap tajam hadits tersebut. Ia menghayati makna hadits yang menyentuh relung kalbu, menusuk sukma. Pikirannya menerawang memahami perintah mencuci tujuh kali. Sebuah renungan yang mengguncang jiwa.

“Perintah mencuci najis yang terkena jilatan anjing, memang harus dilakukan dan merupakan kewajiban. Namun mengapa Nabi menyuruh membasuh tepat itu satu kali dengan tanah. Tidakkah memakai air saja sudah cukup?”

Jumat, 22 November 2013

Haram Bertemu Halal



Dalam sebuh hadits diriwayatkan bahwa suatu hari ada seorang penjahat yang ingin bertobat. Agaknya setelah melakukan berbagai tindakan kejahatan, akhirnya sadar juga hatinya dan datang penyesalan secara bertubi-tubi. Ia bertekad untuk bertobat dari perbuatannya.

Ia lalu memasuki masjid ketika itu Rasulullah SAW sedang memimpin para sahabat berbincang dengan sesamanya. Tiba-tiba Rasulullah bersabda : “Siapa yang meninggalkan sesuatu yang haram, maka ia akan memperoleh sesuatu yang haram itu ketika sudah halal.”

Sesudah itu para sahabat bubr termasuk penjahat tadi, yang kini menjadi muslim meskipun belum bisa meninggalkan kebiasaan jahatnya sama sekali.

Ternyata benar. Malam harinya, penjahat tersebut masih tergoda syetan betapapun ia telah bertekad bulat untuk bertobat. Dimasukinya rumah seorang wanita beriman. Ia seorang janda karena ditinggal mati suaminya.

“Mudah rasanya menculik perempuan itu.”, kata pencuri itu dalah hati.

Di dalam rumah ternyata ada banyak makanan yang enak dan menggugah selera. Ketika pencuri itu hendak mengambilnya, tiba-tiba ia teringat sabda Nabi SAW tadi siang. Terngiang-ngiang sabda Beliau : “Siapa yang meninggalkan sesuatu yang haram, maka ia akan memperoleh sesuatu yang haram itu ketika sudah halal.” Akhirnya ia urungkan niatnya untuk mencuri.

Kamis, 21 November 2013

Tangisan Nabi Muhammad SAW Terhadap Nasib Kaum Wanita



Syaidina Ali ra suatu ketika melihat Rasulullah SAW menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu dia bertanya mengapa Rasulullah SAW menangis. 

Beliau menjawab; "Pada malam aku di-isra'- kan, aku melihat perempuan-perempuan sedang disiksa dengan berbagai siksaan didalam neraka. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena menyaksikan mereka disiksa dengan sangat berat dan mengerikan. Putri Rasulullah SAW kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya.

 


"Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.

Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.

Aku lihat perempuan tergantung kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.

Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.

Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.

Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan gada dari api neraka," kata Nabi SAW.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?